sebuah pertanyaan yang mendadak menyita perhatian saya ketika sedang dalam upacara keagamaan.
pertanyaan itu juga tertera dalam kitab suci.
namun pikiran saya mendadak melanglang jauh,
apakah perlu saya menjadi kaya?
sekaya apa saya harus tempuh?
buat apa saja kalau saya sudah kaya?
usaha apa yang harus saya lakukan?
apakah usaha saya harus halal, ataupun sedikit haram pun boleh?
dan pertanyaan diatas pun, saya coba jawab sendiri (komentar rekan sangat tidak dilarang).
saya perlu menjadi kaya?
harus...! jawaban mantap pun saya lontarkan. karena saya ingin menikmati keindahan dunia dan buah hasil kerja saya. Saya ingin tinggal dalam rumah yang nyaman, keperluan saya hingga primer, sekunder bahkan tersier bisa saya penuhi dengan cukup mudah. Begitu juga untuk keperluan keluarga saya nanti termasuk orang tua saya, istri dan anak saya sampai cucu dan cicit saya. Intinya saya ingin sekali bahagia sendiri dan membahagiakan orang yang saya cintai.
sekaya apa?
hampir saja jawaban "sekaya mungkin" saya lontarkan, karena pikiran saya mulai mencari batasan atas ketidakterhinggaan pernyataan saya.
apa uang sebanyak Bill Gates? atau uang sebanyak Roman Abramovich yang punya kapal Pesiar sendiri bahkan ada 'Helipad' plus Helikopternya? bukan helikopter di Jakarta alias 'helicak' loh!
atau uang sebanyak Budi Sampoerna? atau sebanyak Rahman Sastra (mantan boss saya, boss dari Miyako dan Rinnai). mobilnya ada tujuh namun rumahnya hanya tiga, dua di Indonesia dan satunya ada di Amerika (buat ngungsi kalau Indonesia rusuh), pabriknya ada tiga.
akhirnya sebuah keputusan telah saya bulatkan. saya akan bekerja hingga saya pastikan bahwa kebutuhan saya minimun hingga saya tutup usia bisa terpenuhi tanpa perlu menyusahkan banyak orang. Sisanya saya akan dedikasikan untuk semua orang yang saya cintai. Jika masih ada rejeki berlebih, maka yayasan sosial dan keagamaan akan jadi pelabuhan saya.
secara nyata, rumah saya akan besar, namun sebatas nyaman, bukan dengan pegangan pintu berlapis emas murni, semua akan saya buat sekompak mungkin sehingga pemborosan tidak akan terjadi sangat parah.
saya juga akan mulai mencari bisnis dan investasi (sentrinfoinvest) dan menyelaraskan hidup saya dengan alam (bukan Alam penyanyi dangdut).
pernyataan ini juga menjawab pertanyaan ketiga, untuk apa kalau sudah kaya?
nah cara apa yang akan saya tempuh? sementara ini saya masih melakukan berbagai upaya, saya menargetkan untuk mendapat 1 milyar pertama dari usaha saya.
harus halal? jelas! kembali sebuah jawaban mantap saya ajukan. karena tidak ada namanya sedikit haram. ketika sebuah sumber haram telah masuk, maka tubuh saya sudah menjadi haram termasuk semua usaha saya. ibarat karena susu sebelanga maka rusaklah nila setitik. Meskipun dosa akan selalu saya lakukan, namun pendekatan kepada yang Maha Kuasa saya harap akan menjauhkan saya dari yang 'aneh-aneh' dan mendatangkan rejeki halal yang berlimpah sehingga opsi haram tidak akan saya lirik sedikitpun.
namun setelah berpikir lama, saya mulai bertanya lagi. Kalau sampai saya jadi kaya dan mendapat semua yang bisa saya inginkan, ternyata saya sakit? buat apa juga kan? jangan-jangan semua hasil itu hanya habis buat memperpanjang waktu saya menderita di bumi ini. Jadinya malah ironis yah?
namun sebuah jawaban sudah saya dapatkan, selama bekerja dan mencari rejeki itu, saya akan bekerja bukan secara:
-maksimal: agar saya bisa meraih tujuan saya secepatnya
ataupun
-minimal: agar nanti jika sudah tercapai, maka saya punya badan yang cukup sehat untuk menikmati semua itu. tapi kapan tercapainya?
namun saya akan bekerja secara Optimal.
yah, kata Optimal selalu jadi andalan saya.
karena bekerja secara Optimal bisa berarti kerja secara cerdas, giat, namun tetap tahu aturan dan tetap memikirkan kondisi badan sendiri.
penyakit memang bisa menyerang siapa saja, bahkan dokter juga bisa sakit.
namun saya akan mulai menjaga tubuh saya dengan istirahat yang cukup, makan yang cukup, olahraga, mendekatkan diri kepada Tuhan secara rohani dan bersosialisasi secara sehat dan cukup juga menghindari sumber penyakit seperti rokok, bergadang, makan yang aneh-aneh, lingkungan kotor dan jorok, hingga kerja tanpa kenal waktu.
memang akan ada kemungkinan 50:50, namun dengan ikhtiar yang saya jalani, maka saya berharap kemungkinan saya menikmati semua itu akan lebih besar.
tentunya semuanya tetap saya serahkan kepada Boss saya Sang Pencipta.
ingat... OPTIMAL
SuhuMacan
Rabu, 17 Februari 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
hari demi hari berlalu
BalasHapussaat sang filsafat sedang menyapu
menyapu hati supaya bersih
supaya dipandang indah oleh si Dia
eh ketemu dengan si suhu macan
dentang sendok dan garpu beradu
saat kami menyantap semangkuk soto
sambil mengobrol berbagi rejeki
satu lagi telah lahir
tapi semoga ini bukannya akhir
smoga terus berkembang biak
semakin baik dan bertambah banyak
selamat datang sang suhu macan
welcome to the jungle !
jungle of life....
memaknai setiap langkah
agar hidup makin berarti
bagi diri, keluarga dan sahabat sejati
kemudian barulah bagi sekeliling
yuk melangkah bersama
selama kita mampu berkarya nyata
tunjukkan eksistensi kita
supaya di bumi seperti di sorga
salam rejeki
filsafat rejeki